Hari itu langit Thaif cerah,angin berhembus semilir, tapi tidak dengan dada Rasulullah nabi Muhammad SAW, dada beliau terasa sesak dipenuhi kesedihan. Beliau hadir ke Thaif bukan membawa pedang, melainkan cinta sepenuh hati untuk umat manusia, dengan kata – kata lembut penuh kesopanan, beliau hadir mengajak penduduk Thaif kepada kebenaran haqiqi, untuk mengenal Tuhannya.
Namun cinta itu dibalas dengan batu. Batu yang menghantam sekujur tubuh beliau yang mulia. Tanpa ampun batu – batu itu menghantam pelipis, lutut bahkan dada beliau. Darah mengalir di kakinya. Terasa hangat, menyatu dengan debu jalanan yang panas. Langkahnya goyah, tubuhnya limbung. Tapi lebih dari luka di tubuh, yang paling pedih Adalah ditolaknya kebenaran dengan cemoohan. Kata – kata yang lembut penuh cinta itu dibalas cacian, makian, teriakan tidak hanya orang dewasa bahkan dari mulut- mulut mungil , anak – anak Thaif.
” Pergilah!”
“ Kau pembohong!”
“ Manusia gila!”
Setelah terusir dari kota itu, Rasulullah SAW beristirahat di sebuah kebun milik Utbah dan Syaibah. Nafasnya berat. Tubuhnya Lelah, tapi tidak ada satu pun kata- kata murka yang keluar dari lisannya.
Lalu dalam diam yang retak oleh rasa perih, Beliau SAW mengangkat tangannya dan berdoa, bukan doa kutukkan, bukan pula amarah, tapi doa yang akan membuat siapapun menangis:
“Ya Allah…. Hanya kepada-Mu aku mengadu, tentang lemahnya kekuatanku…sedikitnya upayaku…dan kehinaanku di hadapan manusia…”
“Wahai yang Maha Penyayang…Engkau Adalah Rabb orang – orang lemah, dan Engkau adalah Rabb-ku. Kepada siapa Engkau serahkan diriku ini? Kepada orang jauh yang akan mengusirku? Atau kepada musuh yang Kau beri kuasa atas diriku?”
“Namun jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli…” (HR. Thabrani dan sirah Ibnu Ishaq). Air mata jatuh penuh ketundukkan. Tapi beliau SAW tetap berdoa agar anak cucu mereka kelak mengenal Allah. Tak lama setelah itu, Malaikat Jibril turun Bersama malaikat penjaga Gunung. Mereka berdua turun untuk menyampaikan pesan dari TuhanNya, menyampaikan pembelaan kepada Rasulullah tercinta. “Wahai Muhammad, jika engkau mau, akan kuangkat dua gunung dan kukepakkan keduanya untuk menghancurkan Thaif”.
Tapi Rasulullah SAW yang wajahnya masih basah oleh luka dan airmata menggeleng pelan…
” Jangan…Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka, orang – orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya”.
Subhanallah betapa mulianya akhlak beliau… Beliau SAW dihina, disakiti, diusir, dilempari batu. Tapi tetap saja, cinta itu lebih dalam, kasih sayang itu mengalahkan amarah beliau tidak ingin mereka binasa, justru berharap mereka mendapat hidayah. Inilah cinta. Cinta yang tulus, yang tidak menuntut apapun selain keselamatan orang yang dicintai.
Sumber gambar: pexels.com (Yasin Gdu)
Rindang Karyawati

Beri Komentar