Menurut Depdiknas pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu dalam membentuk watak peserta didik. Dalam hal ini meliputi keteladanan yaitu bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, dan berbagai hal yang terkait lainnya.
Pendidikan kearah terbentuknya karakter yang unggul merupakan tanggung jawab semua guru. Oleh sebab itu, pembinaannya pun harus oleh guru. Sehingga, kurang tepat jika dikatakan bahwa mendidik siswa agar memiliki karakter yang unggul hanya dibebankan kepada guru tertentu saja.
Dengan pendidikan karakter inilah seseorang diharapkan akan mampu menjadi pribadi yang lebih baik dalam menjalankan hidupnya hingga ke tahapan selanjutnya. Pendidikan karakter haruslah membentuk suatu pondasi yang kokoh demi keutuhan rangkaian pendidikan tersebut. Karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin luas pula ilmu yang didapatkan dan akibat yang akan didapatpun semakin besar jika tanpa ada landasan pendidikan karakter yang diterapkan sejak usia dini.
Diantara salah satu kitab yang membahas masalah adab ialah kitab “Adabul ‘Alim wal Muta’allim” karya Hasyim Asy’ary. Disitu Beliau menyampaikan pendapatnya tentang adab, Beliau mengatakan, “Tauhid mewajibkan iman. maka barangsiapa tidak beriman, maka ia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syari’at, maka barangsiapa yang tidak ada syari’at padanya, maka ia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid; dan syari’at mewajibkan adanya adab; maka barangsiapa yang tidak beradab, (pada hakikatnya) tiada syari’at, tiada iman dan tiada tauhid padanya.”
Lalu “apa yang dimaksud dengan adab?”. Kebanyakan orang yang mendengar istilah “adab” mereka akan mengatakan, “adab adalah sopan santun”atau etika, moral bahkan karakter itu sendiri. Namun, bukan itu yang dimaksud. Istilah atau kata “adab” ini datanganya dari Islam. Maka kita kembalikan makna adab tersebut seperti yang diinginkan dalam Islam. Sehingga adab bukan hanya berbuat baik kepada sesama manusia atau makhluk saja melainkan juga kepada Tuhan sang penciptanya yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita semua harus mengingat, bahwa dalam Islam, konsep adab memiliki suri tauladan atau contoh yang dijadikan sebagai panutan, yaitu Nabi kita Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam. Islam mengajarkan bagaimana adab kepada Allah, adab kepada nabi, adab kepada orangtua, adab kepada guru dan seterusnya. Karakter yang beradab akan membawa manfaat yang luas, baik bagi individu maupun bagi sekitarnya. Bagi diri kita sendiri, adab menjadikan seseorang lebih tenang, bijaksana, dan disegani, karena sikapnya memunculkan aura rasa hormat dan ketulusan. Dalam hubungan sosial, orang yang beradab akan lebih mudah dipercaya, dihargai, dan diajak untuk bekerja sama. Bahkan di dunia kerja dan pendidikan, karakter beradab menjadi kunci keberhasilan, karena kompetensi tanpa adab sering menimbulkan konflik/permasalahan, sedangkan adab tanpa kompetensi akan tetap mengundang rasa hormat.
Oleh karena itu karakter yang beradab perlu dibangun sedini mungkin, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Visi yang sama antara orangtua dan sekolah perlu ditanamkan untuk menciptakan keharmonisan antara pola asuh dan pembinaan, sehingga anak tumbuh dalam kondisi yang konsisten antara di rumah, sekolah maupun dilingkungannya.
Adi Kurniawan

Beri Komentar